PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Pada tanggal 20 Desember 2016 dilaksanakan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
Kegiatan yang dilakukan oleh Pengurus Osis ini, dengan mengundang Penceramah dari Sungai Luang Kec. Babirik yaitu Ustaz Afrawi. Hikmah yang bisa kita dari peringatan Maulid Nabi ini agar menjadi momentum kita untuk meneladani Nabi Besar Muhammad SAW dalam perilaku hidup kita sehari-hari. Demikian salah satu bagian dari amanat Kepala Sekolah dalam sambutannya.
Hikmah yang dapat kita ambil dari Maulid Nabi antara lain :
Adalah nikmat yang agung bagi manusia, bahkan alam semesta, pada bulan Rabi’ul Awal, 14 abad silam, terlahir seorang anak manusia yang kelak akan membawa pengaruh besar bagi peradaban dunia. Seorang bayi dari bangsa Arab yang oleh kakeknya diberi nama Muhammad, terpuji di bumi, tersanjung di langit. Muhammad SAW. diutus Allah untuk menyempurnakan perilaku mulia manusia. Tatkala manusia sebagai makhluk beradab berada di ambang kehancuran. Sungguh, kelahiran dan terutusnya beliau adalah rahmat bagi alam semesta. Allah berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ – الأنبياء

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya’ 107)
Selain sebagai ekspresi rasa syukur atas kelahiran Rasulullah SAW., substansi dari peringatan Maulid Nabi adalah mengukuhkan komitmen loyalitas pada beliau. Setidaknya, ini terwujud dengan tiga hal.
Pertama, meneguhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW. Bagi seorang mukmin, kecintaan terhadap Rasulullah SAW. adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan. Kecintaan pada utusan Allah ini harus berada di atas segalanya, melebihi kecintaan pada anak dan isteri, kecintaan terhadap harta, kedudukannya, bahkan kecintaannya terhadap dirinya sendiri. Rasulullah bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ – رواه البخاري

Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya. (HR. Bukhari).
Kedua, meneladani perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW. dalam setiap gerak kehidupan kita. Allah SWT. bersabda :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا – الأحزاب 21

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)
Kita tanamkan keteladanan Rasul ini dalam keseharian kita, mulai hal terkecil, hingga paling besar, mulai kehidupan duniawi, hingga urusan akhirat. Tanamkan pula keteladanan terhadap Rasul ini pada putra-putri kita, melalui kisah-kisah sebelum tidur misalnya. Sehingga mereka tidak menjadi pemuja dan pengidola figur publik berakhlak rusak yang mereka tonton melalui acara televisi.
Ketiga, melestarikan ajaran dan misi perjuangan Rasulullah, dan juga para Nabi. Sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir, Rasul meninggalkan pesan pada umat yang amat dicintainya ini. Beliau bersabda :

تَرَكْت فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم – رواه مالك

“Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallallahu alaihi wa sallam” (HR. Malik).
Rasul juga mewariskan misi perjuangan kepada generasi penerus beliau, yakni para ulama’ dari masa ke masa. Mereka, para ulama’ adalah pewaris para Nabi. Rasulullah SAW. bersabda :

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ إنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ أَوْفَرَ – رواه أبو داود والترمذي وابن حبان

Sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia mengambilnya dengan bagian sempurna. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Hibban).
Sebagai bagian dari umat Islam, selayaknyalah kita menyerahkan kepatuhan dan loyalitas pada para ulama’ sebagai pewaris Rasul dan pelanjut misi beliau. Kepatuhan dan loyalitas tiada lain merupakan wujud ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, kita layak prihatin, karena kecenderungan yang terjadi akhir-akhir ini, ulama’ kurang mendapat tempat di mata umat. Bukan saja diacuhkan, ulama’ bahkan mulai mendapat hujatan dan hinaan di sana-sini. Nau’dzu billah min dzalik. Fenomena ini menjadi salah satu pertanda zaman akhir sebagaimana diprediksikan Rasulullah SAW. Dalam kitab Nashaihul Ibad, tertera sebuah hadits yang memberikan gambaran tentang hal ini. Rasulullah bersabda,

سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيَهُمُ اللهُ بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ أُوْلاَهَا يَرْفَعُ اللهُ الْبَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيْمَانٍ

Akan datang suatu zaman atas umatku, mereka lari dari ulama dan fuqaha’, maka Allah pun menimpakan tiga bentuk cobaan. Pertama, Allah akan menghilangkan barakah dari penghasilan mereka. Kedua, Allah akan menguasakan mereka di bawah kekuasaan pemimpin yang dhalim. Ketiga, mereka akan keluar dari dunia fana dengan tanpa membawa iman.
Sebagaimana diperingatkan dalam hadits, ada tiga konsekwensi yang harus diterima umat jika mereka menjauhi ulama’.
Pertama, Allah akan menghilangkan barokah dari penghasilan mereka. Bisa jadi, fenomena dewasa ini, krisis ekonomi berkepanjangan, adalah satu di antara ekses sikap menjauh dari ulama’. Mungkin, seseorang punya pekerjaan, punya penghasilan, akan tetapi ia jauh dari perasaan cukup, qana’ah, dan rasa syukur. Padahal, masih banyak yang bernasib lebih tragis darinya. Hingga yang muncul adalah perasaan egois, memikirkan kesejahteraan diri pribadi, tanpa mau menengok penderitaan orang lain.
Kedua, bahwa Allah akan menguasakan umat ini di bawah kekuasaan pemimpin yang dholim. Wallahu a’lam, apakah akibat ini telah menimpa kita. Yang jelas, krisis politik dan krisis kepercayaan terhadap para pemimpin negeri ini selayaknya kita jadikan sebagai bahan renungan.
Ketiga, meninggalkan dunia fana tanpa membawa iman, naudzu billah min dzalik. Inilah akibat paling fatal yang harus kita khawatirkan.
Selanjutnya, ada beberapa bentuk tindakan menjauhkan diri dari ulama’. Kebencian, penghinaan hingga hujatan adalah bentuk terburuk. Ibnu Hajar al-Haytami dalam karyanya Az-Zawajir menggolongkan sikap penghinaan sebagai salah satu dosa besar. Dikutipnya sebuah hadits, yang memperkuat pendapatnya ini. Rasulullah bersabda :

ثَلاَثَةٌ لاَ يَسْتَخِفُّ بِهِمْ إلاَّ مُنَافِقٌ ذُو الشَّيْبَةِ فِي اْلإِسْلاَمِ وَذُو الْعِلْمِ وَإِمَامٌ مُقْسِطٌ – رواه الطبراني

Tiga golongan ini tidak akan diremehkan kecuali oleh orang munafik, yakni orang tua yang telah lama memeluk Islam, orang yang berilmu (ulama’) dan pemimpin yang adil. (HR. Thabrani).
Bentuk lain dari menjauhi ulama’ adalah keengganan memperdalam pengetahuan agama. Karena hal ini sama juga dengan acuh terhadap keberadaan umat Islam. Ulama’ adalah pilar pokok tegaknya agama, di samping pilar lainnya. Jika dari masa ke masa, satu per satu ulama’ wafat, sementara penggantinya belum muncul, bukan tidak mungkin, suatu saat nanti tak ada seorangpun diantara umat Islam yang tahu tentang kewajiban dan larangan dalam agama. Hingga pada akhirnya, umat mendaulat seorang yang awam akan pengetahuan agama. Dia akan berfatwa tanpa berdasar pengetahuan, sesat dan menyesatkan. Persis seperti teropong hadits Bukhari dan Muslim berikut. Rasulullah bersabda :

إنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا – متفق عليه

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja dari diri seorang manusia, akan tetapi dengan mencabut nyawa ulama’. Hingga saat tidak tersisa seorang ulama’pun, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya, dia ditanyai, lalu berfatwa tanpa berdasar ilmu, dia sendiri sesat lagi menyesatkan. (HR. Bukhari dan Muslim).

Comments